Sabtu, 08 November 2008

Penurunan Harga Premium tidak Efektif


JAKARTA--MI: Langkah pemerintah menurunkan harga premium sebesar Rp500 per liter terhitung 1 Desember 2008 tidak akan memberikan dampak signifikan pada perekonomian. Pasalnya, selain nominal penurunannya kecil, keputusan ini dinilai terburu-buru.

Hal ini diungkap ekonom dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya A Prasetyantoko. Menurutnya, penurunan harga BBM belum akan berdampak signifikan pada perekonomian nasional. Pasalnya, pemberlakuannya masih ada time lag yakni Desember.

Selain itu, besaran penurunan harga tidak terlalu signifikan hanya Rp500 per liter. Sehingga, dengan penurunan ini tidak akan terlalu memengaruhi harga jual barang-barang yang dampaknya bisa menekan inflasi.

"Apalagi, saya ragu pengusaha transportasi mau menurunkan ongkosnya setelah penurunan harga ini. Dengan penurunan ini, saya melihat sebagai langkah politis dalam menanggapi desakan masyarakat yang melihat harga minyak dunia telah turun jauh. Bahkan penurunan harganya telah jauh lebih rendah dibanding asumsi harga minyak yang ditetapkan pemerintah," tutur Prasetyantoko.

Sehingga, Prasetyantoko melihat langkah ini hanya akan menyenangkan masyarakat. Sebuah langkah populis tanpa memberikan pengaruh banyak pada perekonomian. Kendati begitu, dia menilai penurunan ini bisa saja berlanjut.

"Namun, dalam beberapa waktu kedepan saya melihat harga minyak dunia akan cenderung stabil di kisaran US$65 per barel. Harga ini sangat kecil kemungkinannya untuk naik kembali. Pasalnya, perekonomian dunia memang dihadapkan pada resesi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia," jelas Prasetyantoko.

Hal sama diungkap ekonom CSIS Pande Raja Silalahi. Menurutnya, penurunan harga ini akan kecil pengaruhnya pada perekonomian secara keseluruhan. Misalnya pada daya beli masyarakat, atau pada tekanan inflasi. Soalnya, penurunan ini masih terlalu kecil. Sehingga, dampak yang ditimbulkannya pun tentunya akan kecil.

"Namun, saya melihat penurunan ini dilakukan terlalu terburu-buru. Soalnya, tren harga minyak masih memiliki kecenderungan untuk naik. Akan tetapi, saya melihat positif kebijakan ini karena dengan menyerahkan pada pasar beban kepada anggaran pun akan mengecil. Hal ini terjadi bila pemerintah memang akan me-review harga premium setiap bulannya," jelas Pande.

Tidak ada komentar:

Template by:
Free Blog Templates